Soal Kuliner, Pemerintah Kota Bandung Tak Punya Database

4 06 2010

VoiceOfBandung.com -Kota Bandung kini tidak lagi sekedar kota tujuan  wisata belanja bagi produk sandang dan kulit, tapi telah meluas pada sektor makanan dan masakan.
Keberadaannya sebagai tujuan wisata semakin mantap seiring menjamurnya kreasi dan kreatifitas kulinernya dengan sajian aneka masakan dan minuman khasnya. Persoalannya, sampai kapan kondisi ini berlanjut dan dapat bertahan.

“Tapi ada kekhawatiran ondisi ini meredup dan nasibnya sama seperti yang dialami pengrajin sepatu Cibaduyut dan pedagang tekstil Cigondewah. Untuk bisa bertahan bahkan terus berkembang, wisata kuliner Kota Bandung harus dikemas baik,” ujar pengusaha rumah makan Sate Hadori, H Asep Hadori mewakili Komunitas Boga Bandung, kepada Wali Kota Bandung, Dada Rosada dalam acara silaturahmi dan dialog pengusaha kuliner tradisonal, di rumah makan khas Sunda Braga Café, Jalan Braga Bandung, Kamis malam (27/08/09).

Hadir dalam dialog Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jabar, H Herman Mokhtar, Ketua PHR Kota Bandung. H Momon Abdurrahman, Ketua Kadin Kota Bandung, Deden Hidayat dan sejumlah pejabat public.

Asep Hadori menuturkan, wisata kuliner Kota Bandung selama ini bukan dibangun pengusaha rumah makan dan restoran. Kuliner Kota Bandung lebih banyak dibangun pelaku usaha kecil pinggiran jalan yang notabene bermodal lemah. Perlu keterlibatan langsung peran pemerintah kota, tidak saja fasilitasi permodalan dan promosi tapi juga pelatihan, bahkan tidak kalah pentingnya peran pemandu wisata.

Bandung banyak disebut-sebut sebagai kota wisata kuliner, tapi dikatakan Asep Pemkot Bandung dalam hal ini Disbudpar tidak memiliki data potensi kulinernya.
“Tidak seperti panti pijat, hotel, café, rumah makan dan restoran serta tempat-tempat hiburan.Data base ini setidaknya akan memudahkan Disbudpar dalam pembinaan. Kenapa tidak, karena saya melihat jika potensi wisata kuliner lebih diberdayakan, sangat berpotensi sebagai sumber pendapatan asli daerah,” tutur Hadori.

Asep menyebutkan, selain Sate Hadori yang melegenda bahkan dikenal sampai luar negeri diantaranya Inggris dan Australia, setidaknya perlu di hak patentkan. Jangan sampai eneka jenis makanan dan masakan khas daerah juga diklaim pihak lain, seperti nasib tari pendet, reog ponorogo, wayang kulit dan batik.

Di Bandung dikatakan Asep, ada Nasi Timbel Halilintar, Rawon Setan, Bubur Ayam, perkedel bondon dan masih banyak potensi lain yang bisa dikembangkan, diberdayakan dan dilindungi.

Merespon hal ini, Wali Kota Bandung H Dada Rosada menyatakan, siap membantu sekaligus memfasilitasi. Terlebih dalam misi Kota Bandung khususnya pengembangan peronomian kota yang tangguh dan berkeadilan, terkait erat dengan peningkatan pendapatan masyarakat, menciptyakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha.

Laporan Bambang/002-mad/VoB


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: