POTENSI LAUT YANG TERLUPAKAN

3 08 2008

Potensi sumberdaya laut Indonesia, baik hayati maupun non hayati sangat besar. Potensi tersebut didukung oleh sejumlah pulau sekitar 17.508 buah (terbanyak di dunia) dengan garis pantai sepanjang 81.000 km (terpanjang kedua di dunia setelah Kanada) (Soegiarto, 1976 dalam Dahuri, dkk, 1966). Besarnya potensi tersebut harus dimanfaatkan seoptimal mungkin bagi kemakmuran rakyat disatu pihak, dan di pihak lain kelestarian sumberdaya alamnya harus pula tetap terjaga.

Hingga saat ini beberapa wilayah di Indonesia kegiatan pemanfaatan (eksploitasi) sumberdaya alam laut (SDAL) menunjukkan tingkat pemanfaatan yang belum optimal. Pemanfaatan SDAL optimal yang dimaksud adalah adanya upaya penggunaannya untuk tetap menjaga dan mempertahankan keanekaragaman hayati (biodiversity), sehingga pemanfaatannya memiliki nilai yang berkelanjutan (sustainable use).

Wilayah pesisir (coastal zone) yang diartikan sebagai wilayah pertemuan antara darat dan laut memegang peranan penting dala pertumbuhan ekonomi suatu kawasan. Berbagai aktifitas kehidupan menusia berlangsung di wilayah ini, seperti tempat pemukiman dan rekreasi (pariwisata), tempat industri dan perdagangan, pembuangan limbah, pertanian, perikanan budidaya dan perikanan tangkap, sebagai tempat konservasi alam dan sebagai tempat kegiatan pertahanan dan keamanan (Ketchun 1972 dalam carter, 1981).

Potensi kelautan dengan berbagai kekayaan yang terkandung di dalamnya yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan kepariwisataan, khususnya wisata selam dan snorkeling adalah kawasan terumbu karang yang banyak terdapat di perairan laut Indonesia. Luas kawasan terumbu karang kira-kira 7.500 km2, umumnya terdapat di taman laut dengan sekitar 263 jenis ikan hias laut. Selain itu Indonesia merupakan tempat komunitas mangrove terluas di dunia, yaitu 4,25 juta ha atau 27% dari 15,0 juta ha luas hutan mangrove dunia (Puslitbang Oseonologi-LIPI, 1977).

Dalam pengembangan lokasi pariwisata pesisir diperlukan kehati-hatian karena bersifat alami, sehingga perencanaan dan pengelolaannya memerlukan koordinasi dan integrasi dari berbagai instansi terkait. Wisata pesisir biasanya mempunyai sifat khusus, dengan lokasi yang luasnya relative terbatas, sehingga perlu diperhatikan daya dukung lingkungan, yaitu suatu kemampuan lingkungan menerima tekanan dari luar tanpa mengakibatkan degradasi lingkungan. Tekanan tersebut berasal dari pembangunan fasilitas penunjang kegiatan wisata, contohnya pendirian sarana akomodasi, pembukaan jalur transportasi, dan lain-lain.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: