PESONA SUNGAI KAKAP – KUBU RAYA

15 12 2011

Kecamatan Sungai Kakap adalah salah satu Kecamatan di Kabupaten Kubu Raya yang berbatasan langsung dengan Kota Pontianak (Ibukota Provinsi). Aksesibilitas menuju Kecamatan Sungai Kakap dari Kota pontianak relative tinggi. Terdapat dua alternatif jalan menuju Ibukota Kabupaten; Alternative pertama melalui kota Pontianak berjarak sekitar 26 km dengan asesibilitas tinggi. Alternative ke dua via Punggur Kecil berjarak sekitar 29 km kondisi jalan kurang baik dan aksesibilitas rendah.

Daya Tarik Wisata (DTW) Alam Kecamatan Sungai Kakap

Kecamatan Sungai Kakap terbagai atas beberapa gugus pulau. Beberapa pulau berbatasan langsung dengan Laut Natuna. Kondisi alam demikian telah menjadikan Wilayah Kecamatan Kakap bagian pesisir seperti seperti Tanjung Saleh, Jeruju Besar, Sungai Itik, dan Sungai Kupah (Tanjung Intan) memiliki potensi wisata pantai. Namun keterbatasan infrastruktur serta aksesibilitas yang rendah menuju wilayah tersebut potensi tersebut belum dapat diberdayakan.

Muara Sungai Kakap (Tanjung Saleh) dan sekitarnya adalah tempat favorit bagi para pemancing. Hampir setiap hari libur dan hari minggu di kawasan ini selalu dipenuhi oleh wisatawan pemancing yang datang dari berbagai tempat. Kegiatan ini tentu saja memberikan nilai positif bagi penduduk sekitar. Para nelayan Sungai Kakap sudah terbiasa pada hari-hari tertentu beralih profesi dengan menyewakan perahunya kepada para pemancing. Harga sewa perahu yang dipatok nelayan ini berkisar antara Rp. 250.000 sampai 500.000,- tergantung besar kecilnya perahu dan jauh dekatnya rute yang tempuh pemancing. Kegiatan mancing ikan di Muara Sungai Kakap ini tentu saja menjadi potensi Daya Tarik Wisata yang perlu dikembangkan.

Diwilayah Sungai Kakap bagian daratan terutama Desa Punggur Kecil, Punggur Besar, Kalimas dan Pal IX memiliki lahan yang subur serta berkembang berbagai budidaya tanaman buah-buahan seperti Langsat, Manggis dan Durian. Bahkan, produksi langsat di Kalimantan Barat lebih dari 75% nya adalah berasal dari wilayah tersebut. Ketika musim buah tiba, bukan saja penduduk lokal yang datang ke wilayah ini. Berbagai lapisan masyarakat maupun para pedagang berbondong-bondong datang untuk menikmati dan membeli buah-buhan tersebut.

Daya Tarik Wisata (DTW) Budaya dan Religi Kecamatan Sungai Kakap

Dari segi budaya, Kec. Sungai Kakap penduduknya terdiri atas berbagai etnis diantaranya adalah etnis melayu, dayak, jawa, bugis, madura, arab dan cina. Heterogenitas etnis-etnis yang berada di Kecamatan Sungai Kakap ini telah memberikan khasanah kekayaan budaya di daerah tersebut.

Pada hari-hari tertentu terutama pada tahun baru cina dan cap go meh masyarakat etnis cina di Sungai Kakap biasa menyelenggarakan acara budaya barongsay/Naga serta dikenalnya upacara ritual sembahyang kubur. Salah satu objek yang menjadi daya tarik wisatawan adalah keberadaan “pekong” yang berlokasi ditengah-tengah muara Sungai Kakap. Pekong di Tengah-tengah muara Sungai Kakap ini menjadi tempat pavorit untuk didatangi. Berbagai kalangan termasuk wisatawan yang berasal dari luar Kabupaten Kubu Raya kerap mendatangi lokasi pekong tersebut. Wisatawan yang beretnis cina dan biasanya beragama Konghucu secara khusus melakukan ritual keagamaan begitu nyampai di lokasi. Meskipun pekong ini adalah sarana ibadah bagi masyarakat yang beragama konghocu, tapi pihak pengelola pekong tidak melarang masyarakat lain untuk berkunjung ke lokasi ini. Umumnya para wisatawan baik yang beragama konghucu maupun wisatawan lain melakukan kegiatan memancing sambil menikmati panorama keindahan laut muara Sungai Kakap. Untuk menuju lokasi Pekong, pihak pengelola pekong yang berada di daratan (pelabuhan Sungai Kakap) menyediakan jasa angkutan perahu yang dapat digunakan oleh para wisatawan untuk menuju lokasi, umumnya mereka datang secara berkelompok. Selain perahu yang disediakan pengelola, wisatawanpun dapat memanfaatkan jasa perahu nelayan baik secara carteran maupun jasa antar jemput.

Kegiatan budaya lain yang berkembang di Kecamatan Sungai Kakap adalah budaya melayu seperti acara robok-robok yang rutin diselenggarakan setiap bulan safar oleh masyarakat di wilayah ini.

Dari segi sejarah. Di Tanjung Intan ditemukan patok-patok kayu peninggalan kerajaan. Sedangkan di Tanjung Darat, Desa Jeruju Besar terkenal dengan perkampungan Arab pertama di Pontianak. Keberadaan kampung ini mempunyai nilai sejarah terutama bila dikaitkan dengan pekembangan Agama Islam di wilayah Sungai Kakap, Teluk Pakedai, Sungai Berembang sampai ke Mempawah. Di perkampungan ini pula salah seorang tokoh ulama penyebar agama Islam di wilayah ini yaitu Al-Habib Muhamad bin Abdullah bin Abdurahman Al-Muthahar yang wafat pada tanggal 19 Muharram 1334 H dimakamkan. Kondisi makan pada saat ini sangat memperihatinkan. Makam sejarah yang berlokasi di pinggir jalan antara Desa Jeruju Besar-Sungai Itik ini tampak tidak terawat dengan baik. Selain Makam yang merupakan saksi sejarah tentang perkembangan Islam di Kecamatan Kakap ini, terdapat pula sebuah Masjid yaitu “Masjid Darrul Ibadah”, situs sejarah yang perlu dilestarikan yang terletak di Desa Jeruju Besar.

Situs sejarah lainnya yang ditemukan di Kecamatan Sungai Kakap adalah Masjid Nurul Fattah dan Makam H.Abdoel Fattah Bin H.Aboebakar yang terletak di Desa Berembang, Kecamatan Sungai Kakap. H. Abdoel Fattah  Bin H. Aboebakar wafat pada tanggal 23 April Tahun 1939.

Daya Tarik Wisata (DTW) Minat Khusus Kecamatan Sungai Kakap

Selain kaya akan potensi wisata alam dan budaya/religi, di Kecamatan Sungai Kakap tepatnya di Desa Jeruju Besar ditemui satu kawasan wisata seluas 8,4 Ha yang dibangun oleh pihak investor. Pada saat dilakukan survey (2011) kondisi tempat wisata masih dalam masa pengembangan.

Lokasi wisata ini bernama “Taman Rekadena” letaknya berada di pinggir jalan utama Desa Jeruju Besar. Berbagai atraksi wisata dapat dinikmati di lokasi ini. Diantaranya adalah; taman buah dan tanaman, arena memancing, dan arena outbond. Berdasarkan informasi dari petugas taman, ditempat ini akan didirikan juga pertokoan souvenir dan restaurant. Selain arena wisata tersebut, di lokasi ini terdapat juga tempat yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan rapat atau perkawinan.

Akomodasi Wisata

Letak dan posisi Kecamatan Sungai Kakap yang berbatasan langsung dengan Laut Natuna serta jarak yang relatif dekat dengan Pusat Ibukota Provinsi (Kota Pontianak) telah memberikan keuntungan tersendiri bagi kota tersebut. Sebagai pusat transportasi sungai, keberadaan dermaga/pelabuhan di Sungai Kakap kerap melayani berbagai angkutan laut/sungai untuk menghubungkan wilayah-wilayah sekitarnya termasuk objek-objek wisata yang tersebar di wilayah tersebut.

Selain daya tarik wisata yang dimiliki Kecamatan Sungai Kakap, pengembangan kegiatan kepariwisataan perlu ditunjang oleh tersedianya berbagai akomodasi wisata. Beberapa fasilitas sarana dan prasarana yang terdapat di Kecamatan Sungai Kakap yang diperkirakan dapat menunjang kegiatan kepariwisataan diantaranya adalah dijumpainya berbagai tipe rumah makan sekala kecil maupun besar, toko penjual hasil laut yang dapat digunakan sebagai souvenir wisata, lembaga perbankan (bank) serta penyewaan alat transportasi khususnya perahu nelayan.

Beberapa Restaurant yang berlokasi di Sungai Kakap kerap dijadikan tujuan oleh wisatawan dari luar Sungai Kakap, khususnya para wisatawan yang datang dari Kota Pontianak. Beberapa Restaurant seperti Restauran Pondok Hijau hanya buka pada hari-hari tertentu yaitu pada hari jum’at, sabtu dan minggu. Restaurant lainnya yang ada di Sungai Kakap adalah Restauran Pondok Wisata Seafood dan Restaurant Teratai Indah yang memiliki panorama menghadap laut. Satu Restaurant yang ditemui yaitu Kakap Kuring dalam keadaan tidak aktif (adindabelia.worpress.com)





WISATA KE DESA KUBU DI KUBU RAYA

15 12 2011

Akses menuju kecamatan Kubu dapat ditempuh melalui jalur Sungai Kapuas. Dari Dermaga Rasau Jaya menggunakan motor air regular ditempuh dengan waktu 4 jam dengan onkos Rp. 30.000,- sedangkan bila ditempuh dengan speedboat hanya memerlukan waktu + 1 jam dengan ongkos angkut Rp. 60.000 per orang.

 Panorama Sungai Kapuas Rasau Jaya – Kubu

Sepanjang perjalanan menuju Kec. Kubu para penumpang atau wisatawan akan disuguhi keindahan alam Sungai Kapuas dengan berbagai aftifitas didalamnya. Jalur ini relative padat, selain hilir mudiknya nelayan lokal melakukan aktifitasnya juga menjadi urat nadi perekonomian bagi angkutan sungai yang menghubungkan Kota Pontianak dengan kota-kota lainnya sepanjang sungai Kapuas kearah Kabupaten Kayong Utara. Selain disuguhi aktifitas pelayaran lokal para wisatawan pun akan menikmati pemandangan hutan mangrup dan jejeran pohon nipah yang begitu menyejukkan. Perjalanan sungai menuju Kec. Kubu ini tentu saja menjadi perjalanan yang sangat mengesankan bagi para wisatawan terlebih bagi mereka yang belum pernah menikmati perjalanan lewat sungai.

Setelah kurang lebih satu jam perjalanan dari Dermaga Rasau Jaya, speedboat akan memasuki Kecamatan Kubu dan biasanya berhenti di Ibukota Kecamatan Kubu atau di Desa Kubu.  Desa Kubu adalah kawasan transit bagi para penumpang yang melakukan perjalanan dari atau ke Kabupaten Kayong Utara. Dilokasi ini, tersedia fasilitas-fasilitas bagi para penumpang atau wisatawan. Selain terdapat beberapa rumah makan, di lokasi ini juga terdapat pasar lokal yang melayani penumpang transit maupun kebutuhan sehari-hari penduduk lokal serta satu buah penginapan sederhana “Famili” dengan tarif relative murah sekitar Rp.40.000,- permalam.

Situs Kerajaan Kubu

Dari segi Daya Tarik Wisata (DTW), Desa Kubu terkenal dengan situs peninggalan Kerajaan Kubu. Berdasarkan sejarah yang bersumber dari berbagai bahan, Kerajaan Kubu didirikan oleh Syarif Idrus, seorang penyebar ajaran Islam dari Ar-Ridha Trim Hadralmaut.

Situs Sejarah peninggalan Kerajaan Kubu yang menjadi potensi Daya Tarik Wisata Budaya/Rohani di Kecamatan Kubu adalah:

  1. Masjid Jami Khairussa’adah, Kompleks Makam Kerajaan Kubu
  2. Makam Raja-raja Kubu
  3. Keraton Adrussiyah Kubu

Daya Tarik Wisata (DTW) Budaya Kecamatan Kubu

Pada Tahun 2010 atau tepatnya 28 Dzulqaidah 1431 H, Hari Sabtu, 6 November 2010, bertempat di komplek makam Kerajaan Kubu, Keluarga Besar Addarussiah Kerajaan Kubu/ Ambawang melaksanakan khaul atau peringatan wafatnya Sayidis Syarif Idrus bin Abdurrahman Al Aydrus ke-222 (26 Dzulqaidah 1209 H-1431 H). Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Bapak Syarif Ahyar Alaydrus (Keraton Kubu/ keturunan dari raja ke-8), acara ini dihadiri oleh sekitar 3.000 jemaah yang datang dari berbagai daerah dan negara tetangga. Artinya bahwa dengan banyaknya jemaah yang hadir pada acara tersebut menandakan kegiatan tersebut telah menjadi Daya Tarik Wisata Budaya/Rohani dan ini adalah merupakan potensi yang perlu dikembangkan dalam rangka pembangunan kepariwistaan di Kabupaten Kubu Raya. Kegiatan budaya lainnya yang rutin dilaksanakan di Kecamatan Kubu adalah Robo-robo. Untuk Tahun 2011, acara robo-robo dilaksanakan pada Tanggal 18 Desember 2011.

Daya Tarik Wisata (DTW) Alam Kecamatan Kubu

Selain Daya Tarik Wisata (DTW) Budaya, Kecamatan Kubu juga memiliki DTW Alam yaitu Wisata Gunung Ambawang dan Batu Masjid. Setidaknya terdapat 3 (tiga) atraksi wisata Alam Gunung Ambawang yang ditemui yaitu; Wisata Hiking Gunung Ambawang, Wisata Air Terjun Gunung Ambawang (Bujang Bahar) dan Wisata Batu Wangkang. Selain itu ketiga DTW tersebut, ditemui juga DTW Batu Masjid yang letaknya di Dusun Parit Baru, Desa Sungai Bemban, Kec. Kubu. Berdasarkan informasi dari masyarakat sekitar, keempat jenis wisata alam tersebut hanya dikunjungi oleh wisatawan pada waktu-waktu tertentu, seperti pada waktu liburan sekolah dan pada hari raya.

 Air Terjun Bujang Bahar dan Wisata Hiking

Dari Desa Kubu (Ibukota Kec. Kubu) perjalanan menuju kawasan wisata Gunung Ambawang dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda dua dengan ongkos ojek ketika dilakukan survey (2011) adalah sebesar Rp. 75.000 (PP). Perjalanan dari Desa Kubu ditempuh kurang lebih 1 jam perjalanan melalui rute Desa Kubu-Penyebrangan Sungai Kapuas-Desa Air Putih-Lokasi Kaki Gunung Ambawang (Desa Ambawang).

Dari Lokasi Kaki Gunung Ambawang menuju Lokasi Air Terjun Bujang Bahar dilakukan dengan jalan kaki melewati rute-rute jalan setapau menempuh hutan pegunungan yang mempunyai kemiringan lebih dari 30O dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam. Lokasi wisata sampai saat ini masih dikelola secara sederhana oleh masyarakat Desa Ambawang. Namun demikian, di kaki gunung ambawang telah disediakan areal parkir dan toilet umum untuk keperluan wisatawan.

 Batu Wangkang

Sekitar 3 (tiga) km ke arah barat dari lokasi wisata Air Terjun Gunung Ambawang ditemui DTW Batu Wangkang. Seperti halnya lokasi wisata Air Terjun, di lokasi inipun pengelolaannya masih dilakukan sederhana oleh masyarakat sekitar. Keindahan dari lokasi Batu Wangkang ini adalah menikmati alam hutan dan kesejukan air sungai yang sangat jernih yang ditengahnya terdapat batu-batu pengunungan yang besar.

 Batu Masjid

Lokasi terakhir dari DTW Alam yang ada di Kec. Kubu adalah Batu Masjid, terletak di Dusun Parit Baru Desa Sungai Bemban. Batu Masjid adalah sebuah gugu-san batu yang bentuknya menyerupai kubah masjid. Tumpukan batu sejenis hanya ditemui di satu lokasi ini saja, tidak ditemui di lokasi lainnya. Belum ada akomodasi penunjang wisata di sekitar batu masjid ini. Lokasi batu Masjid sebenarnya tidak terlalu jauh dari Kawasan Gunung Ambawang, sehingga bila berminat untuk mengunjungi lokasi ini bisa satu perjalanan wisata dengan lokasi wisata gunung ambawang. Menuju lokasi ditempuh dengan roda dua sekitar satu jam perjalanan dari Gunung Ambawang, hanya saja ketika dilakukan survey (2011) aksesibilitasnya masih sangat rendah. Alternatif perjalanan lain dari Ibukota Kabupaten menuju lokasi Batu Masjid dapat ditempuh melalui rute; Sungai Raya-Rasau Jaya-Bintang Mas-Penyebrangan ke Sungai Deras-Lokasi (Sungai Bemban) dengan waktu perjalan sekitar 2,5 jam. (adindabelia.wordpress.com)





DTW SUNGAI AMBAWANG – KUBU RAYA

15 12 2011

Alternatif wisata alam, terutama wisata hutan dan pegunungan di Kecamatan Ambawang terdapat di Desa Teluk Bakung. Potensi Alam yang dimiliki Desa Teluk Bakung ini dapat lebih diberdayakan seiring dengan semakin membaiknya aksesibilitas Jalan Lintas Kalimantan yang melintasi Kecamatan Sungai Ambawang.

Daya Tarik Wisata Alam lain yang menjadi potensi pariwisata di Kecamatan Ambawang adalah memanfaatkan keberadaan Sungai Landak yang melintasi Desa Mega Timur serta keberadaan anak sungai lainnya yang berada di Kecamatan Ambawang. Panorama alam sungai dan kearifan masyarakat lokal di sekitar Sungai Landak, Sungai Ambawang dan anak sungai lainnya merupakan potensi Daya Tarik Wisata Alam. Pengembangannya dapat terpadu dengan kecamatan lain di Kabupaten Kubu Raya yang juga dilalui oleh sungai-sungai tersebut.

Desa Jawa Tengah dan Desa Korek berpotensi untuk dikembangkan sebagai desa wisata. Potensi DTW di kedua desa tersebut terutama yang berhubungan dengan DTW budaya yang berkembang di masing-masing desa tersebut.

Desa Jawa Tengah masyarakatnya sebagian besar masih memegang tradisi dan budaya jawa. Di lokasi ini terdapat bangunan rumah besar 2 (dua) unit yang berfungsi sebagai tempat menyelenggarakan kegiatan budayanya. Pada tanggal-tanggal tertentu seperti tanggal 1 syuro atau Bulan Muharam setiap tahunnya selalu dilaksanakan kegiatan budaya sedekahan bumi. Pada acara budaya tersebut, selain kegiatan budaya dan keagamaan juga ditampilkan hiburan-hiburan khas daerah jawa seperti campur sari, wayang kulit, Singa Barong, Pencak Silat, hadrah dan kesenian-kesenian lainnya. Melalui Paguyuban Masyarakat Jawa di Desa Jawa Tengah serta pembinaan dari para tokoh masyarakat di desa tersebut, beberapa kesenian dan tradisi jawa relative berkembang dan terpelihara keberadaannya. Beberapa kesenian seperti pengembangan wayang kulit dan singa barong mengharapkan adanya pembinaan dan bantuan peralatan dari pemerintah daerah. Dengan berkembangnya tradisi jawa di lokasi ini, Desa Jawa Tengah sangat berpotensi sebagai pusat pengembangan budaya jawa di Kabupaten Kubu Raya atau bahkan berpotensi sebagai pusat orientasi budaya jawa di Kalimantan Barat.

Desa Korek, Kecamatan Sungai Ambawang berpotensi untuk dikembangkan sebagai DTW Budaya di Kabupaten Kubu Raya. Di Desa Korek ini berdiri rumah panjang (Rumah Betang) yang merupakan rumah budaya adat dayak. Keberadaan rumah betang ini menjadi sangat penting terutama bila dihubungkan dengan pemeliharaan dan pengembangan tradisi masyarakat dayak di lokasi tersebut. Pada waktu-waktu tertentu di rumah betang ini selalu diadakan kegiatan budaya dayak seperti acara naik dangau, upacara buang penyakit padi dan upacara budaya lainnya. Keberadaan budaya dayak di Desa Korek ini ditunjang dengan adanya sanggar-sanggar budaya seperti Sanggar budaya Malahia dan Muaratarino yang konsisten memelihara dan mengembangkan seni budaya dayak. Pada beberapa waktu yang lalu di Desa Korek juga banyak terdapat Rumah Pantek yaitu patung yang terbuat dari kayu ulin yang dibuat sebagai penghormatan kepada tokoh leluhurnya, namun keberadaan rumah Pantek ini pada saat ini sudah sulit ditemui.

Kecamatan Ambawang di lalui oleh Jalan Lintas Kalimantan. Keberadaan jaringan jalan ini menjadi sangat strategis terutama bila dihubungkan dengan pengembangan ekonomi dan budaya bagi bagi masyarakat Kabupaten Kubu Raya. Jaringan Jalan Lintas Kalimantan bukan saja menghubungkan Kabupaten Kubu Raya dengan Kabupaten lainnya di Kalimantan Barat, tetapi menjadi jalan penghubung juga dengan Negara Malaysia.

Beberapa desa di sepanjang koridor Jalan Lintas Kalimantan sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai rest area. Di lokasi rest area tersebut selain penyelenggaraan fasilitas beristiharat juga sangat dimungkinkan untuk sekaligus memperkenalkan budaya daerah setempat atau mendirikan pusat-pusat penjualan souvenir wisata dengan ciri khas Kabupaten Kubu Raya. Beberapa desa berpotensi untuk berdirinya rest area sekaligus memperkenalkan budaya setempat. Di Desa Jawa Tengah berpotensi untuk diperkenalkan kepada pengunjung rest area di lokasi tersebut. Di Desa Korek, Lingga dan Pancaroba, budaya dayak dapat diperkenalkan terhadap pengunjung rest area. Begitu juga di Desa Teluk Bakung, pengunjung dapat dimanjakan oleh budaya dan keindahan alam yang ada.

Potensi lainnya yang dimiliki Kecamatan Ambawang adalah keberadaan Terminal Tipe A (Terminal Ambawang) yang akan menjadi terminal terbesar antar Negara yang ada di Kalimantan Barat. Dengan terpusatnya angkutan transportasi antar Negara di terminal ini, Kabupaten Kubu Raya berpotensi untuk didatangi oleh wisatawan lokal (antar kabupaten) dan wisatawan mancanegara (Malaysia dan Brunei Darussalam). Potensi ini tentu saja perlu dioptimalkan oleh pemerintah daerah, terutama instansi yang terkait dalam penyelenggaraan pariwisata. Di lokasi terminal dapat diselenggarakan event-event wisata kuburaya serta menjadi pusat penjualan souvenir wisata khas Kabupaten Kubu Raya.

Lokasi lain yang dapat dikembangkan sebagai lokasi DTW adalah Tugu Ali Anyang di bundaran jalan lintas Kalimantan. Pada saat survey dilakukan (2011) Tugu Ali Anyang ini sudah menjadi orientasi bagi masyarakat lokal untuk menikmati acara wisata di lokasi tersebut. Beberapa kelompok masyarakat mendirikan Forum Komunikasi Pemuda Tugu Alianyang dengan tujuan mengelola areal sekitar tugu untuk kegiatan wisata bagi masyarakat lokal. Pemerintah daerah dapat berperan dengan memberikan penataan di wilayah tersebut.

Akomodasi wisata atau penunjang kegiatan wisata di Kecamatan Sungai Ambawang masih dirasakan kurang. Jenis transportasi juga masih sangat terbatas. Hotel yang ditemui adalah Hotel Surya Alam, terletak di Jalan Lintas Kalimantan. Jenis fasilitas yang dimiliki Hotel Surya Alam diantaranya adalah; Ball Room dengan daya tamping 100 orang dan restaurant. Hotel yang baru berdiri pada tahun 2011 ini belum begitu rame dikunjungi. Tingkat hunian hotel baru mencapai 10-20 % setiap harinya.

Beberapa masyarakat di Kecamatan Ambawang adalah pengrajin Souvenir Wisata. Hasil kerajinan umumnya dipasarkan ke Kota Pontianak atau dipasarkan melalui pameran-pemeran pariwisata. Beberapa jenis kerajianan yang ada diantaranya adalah kerajinan anyaman akar keladi air yang di produksi oleh KUB Barage, Desa Ambawang Kuala. Jenis produksinya adalah tas, topi, tempat kue, tempat buah/bunga, kipas, pot bunga dan piring. (adindabelia.wordpress.com)

 

 





DTW SUNGAI RAYA – KUBU RAYA

15 12 2011

Secara geografis, Kecamatan Sungai Raya berbatasan langsung dengan Kota Pontianak (Ibukota Provinsi). Bandara Supadio atau dikenal juga sebagai Bandara Pontianak letaknya berada di Kota Sungai Raya ini, sehingga dapat dikatakan Kabupaten Kubu Raya atau lebih khususnya Kota Sungai Raya adalah pintu gerbang menuju Kalimantan Barat dari jalur udara.
Di pusat Ibukota Kecamatan (Kota Sungai Raya) belum banyak ditemui lokasi wisata. Tempat wisata yang ada umumnya berupa wisata buatan, seperti wisata outbond di Taman Fantasi, Taman Randayan dan Kolam Renang di Hotel Dangau/Randayan.
Beberapa fasilitas penunjang wisata seperti hotel, penginapan, rumah makan, Karaoke, Spa dan Biro Perjalanan Wisata telah tersedia di Kecamatan Sungai Raya. Beberapa hotel berkelas bintang seperti Hotel Dangau, Hotel Harmoni Inn dan Hotel Gardenia. Selain hotel berbintang tersebut, tersedia juga hotel kelas melati seperti Hotel Srikandi dan beberapa penginapan di sekitar bandara. Sedangkan beberapa rumah makan seperti Fresh Resto, Warung Dangau, Rumah Makan Padang maupun rumah makan lainnya tersebar di kecamatan ini.
Beberapa hotel dan rumah makan seperti Hotel Randayan, Hotel Harmoni Inn, Hotel Gardenia dan Rumah Makan Fresh Resto telah dilengkapi oleh Penunjang wisata MICE (wisata konvensi). Ditempat ini dapat digelar kegiatan Meeting (pertemuan), Incentive, Conference (Persidangan berkala) dan Exibition (pameran).
Kecamatan Sungai Raya dilalui oleh Sungai Kapuas. Keberadaan Sungai ini adalah potensi wisata alam yang dapat dikembangkan. Kedepan, wisatawan dapat memanfaatkan potensi alur Kapuas ini sebagai suatu bentuk kegiatan wisata yang berwawasan lingkungan dengan memperhatikan fanorama dan dinamika kearifan lokal di sekitar Sungai Kapuas.
Beberapa kegiatan wisata dapat dikembangkan di sekitar alur sungai Kapuas. Pada titik-titik tertentu pada DAS Sungai Kapuas seperti di sekitar Jembatan Kapuas dua dapat dikembangkan berbagai atraksi wisata seperti wisata keluarga dan layak anak maupun wisata mancing. Selain itu dapat dikembangkan pula kegiatan penunjang wisata seperti rumah makan maupun wisata kuliner lainnya.
Di beberapa lokasi lainnya di Kecamatan Sungai Raya seperti di Desa Gunung Tamang di ujung Pulau Limbung terdapat potensi Alam Gunung Tamang. Hanya saja dengan keterbatasan infrastruktur yang ada, potensi tersebut masih bersifat wisata lokal.
Di Desa Limbung (kawasan sekitar Bandara) tersedia lahan sekitar 25 Ha yang akan dimanfaatkan untuk kegiatan hutan kota. Kedepan selain jenis tanaman yang telah tersedia di lahan tersebut juga berencana akan di tanaman oleh berbagai jenis tanaman langka oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Kubu Raya. Disekitar lokasi ini juga akan dikembangkan oleh masyarakat Desa Limbung berupa taman agro wisata yang terpadu dengan pertanian. Selain Taman kota terdapat pula kawasanan penanaman rumput gajah dan waduk limbung.
Fasilitas wisata lainnya juga tersebar di Kawasan Bandara Supadio, diantaranya adalah berbagai Biro Perjalanan Wisata (Tiketing), Agen Perjalanan Wisata, Rumah Makan, Penjualan Souvenir serta Taxi Bandara.
Selain Daya Tarik Wisata, di Kecamatan Sungai Raya juga berkembang kegiatan budaya seperti Kasidahan (Desa Kuala Dua, Arang Limbung, Sungai Raya dan Teluk Kapuas), Kesenian Rebana, Kuda Lumping (Arang Limbung dan Desa Limbung), Barongsay/Naga (Sungai Raya dan Teluk Kapuas), kesenian Jepin. wisata rohani Makam Sultan Manggis di Desa Sungai Asam, Sukalanting dan wisata rohani sembahyang kubur.
Beberapa bentuk kerajinan yang dapat dimanfaatkan sebagai bentuk souvenir wisata sudah mulai berkembang di Kecamatan Sungai Raya, diantaranya adalah kerajinan keladi air, membuat guci di Sungai Raya, Kerajinan Tikar Bemban (Arang Limbung), Kerajinan Tas Kain (Sungai Durian), Kerajinan Kerang (Sungai Raya), pemanfaatan limbah pelastik untuk souvenir di Desa Arang Limbung.
Di Kecamatan Sungai Raya berdiri juga Grya Kerajinan dan Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Kab. Kubu Raya) yang terletak di Jalan A. Yani 2 Sungai Raya. Dekranasda ini menampung dan memasarkan produk kerajinan masyarakat Kabupaten Kubu Raya. Keberadaan Dekranasda ini sangat membantu dalam hal mempromosikan produk souvenir masyarakat, terutama mengikut sertakan produk-produk kerajinan masyarakat pada ajang-ajang pameran.





Memindahkan Kemiskinan?? Potret Transmigran Kepala Gurung SP-1, Kabupaten Kapuas Hulu

13 11 2011

Oleh : Aan M. Abdullah

Satu dari sekian banyak lokasi Transmigrasi yang ada di Kalimantan Barat ini nasibnya tidak begitu baik dibandingkan dengan lokasi transmigrasi lainnya yang ada di Kalimantan Barat. Bila saja jalannya bagus, sebenarnya Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) Kepala Gurung SP-1 ini letaknya relative tidak jauh dari jalan utama Sintang-Putussibau, bahkan bis regular Pontianak-Putussibau telah sangat familiar menaik-turunkan penumpang di Simpang Tekalong yaitu simpang menuju lokasi Kepala Gurung SP-1.

Secara administrasi, UPT Kepala Gurung termasuk kedalam Desa Kepala Gurung, Kecamatan Mentebah, Kabupaten Kapuas Hulu. Lokasi Pasar dan Puskesmas terdekat berjarak 25 km berada di Ibukota Kecamatan, sedangkan jarak menuju Kota Putussibau kurang lebih 52 km yang dapat ditempuh melalui jalan darat.

Berturut-turut semenjak Tahun 2005 sampai Tahun 2009 UPT Kepala Gurung ini telah menerima 400 KK dengan komposisi penempatan 50% dari penduduk setempat dan 50% dari penduduk pendatang yaitu dari  Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sampai Tahun 2011 ini jumlah penduduk yang ada bukannya bertambah tetapi semakin berkurang. Bahkan sekitar 100 KK untuk penempatan Tahun 2009 telah pergi entah kemana karena tidak menempati lagi lokasi yang telah disediakan.

kondisi rumah transmigran di Kepala Gurung SP-1

kondisi rumah transmigran di Kepala Gurung SP-1

Lokasi UPT Kepala Gurung SP-1 ini memang termasuk kedalam salah satu UPT yang lambat berkembang. Pendapatan rata-rata per KK per tahun transmigran masih kurang dari 2000 kg setara beras (166 kg setara beras/bulan), itupun umumnya didapat dari penghasilan “off farm” sebagai buruh atau menjadi jasa ojeg.

Persoalan klasik dari tidak berkembangnya lokasi transmigrasi yang ada di Indonesia termasuk di Kalimantan Barat adalah buruknya infrastruktur yang ada, minimnya pembinaan dari disnakertrans dan bermasalahnya kualitas lahan yang ada.

Sebenarnya, sebelum para transmigran masuk lokasi pihak dinas transmigrasi setempat telah melakukan studi  kelayakan atau yang dikenal dengan studi Rencana Teknis Satuan Permukiman (RTSP) dan Rencana Teknis Jalan (RTJ). Wajib hukumnya dalam studi ini lokasi yang akan ditempati termasuk dalam kategori 2C (Clean and Clear) lokasi bebas dari semua persengketaan dan kepemilikan lahan serta berkategori 4L (Layak Huni, Layak Berkembang, Layak Usaha dan Layak Lingkungan). Namun peng-ingkaran studi kadang kala terjadi baik yang sifatnya disengaja maupun tidak. Bisa saja lokasi yang distudi berbeda dengan lahan UPT yang benar-benar ditempati sebagaimana terjadi pada UPT Kepala Gurung. Akibatnya, sudah pasti yang pertama dirugikan adalah para transmigrasi itu sendiri.

Masyarakat Transmigrasi UPT Kepala Gurung SP-1 umumnya tidak bisa hidup dari sekedar menanam padi atau pangan di lahan usaha yang sudah ada. Sebagian lahan tidak sesuai untuk ditanami karena tanahnya mengandung batu bara. Sebagian lagi masyarakat sulit untuk bekerja di lahan usaha karena bentuk lahan yang rolling/terjal dan jauh dari permukiman atau lahannya masih banyak tunggul-tunggul pohon besar.

kondisi jalan

Jangan disalahkan bila sebagian besar masyarakat transmigrasi UPT Kepala Gurung meninggalkan lokasi. Meskipun didatangkan juga transmigran pengganti. Mereka sangat kecewa terhadap lambatnya pembangunan UPT. Kecewa kepada minimnya bimbingan yang diberikan pemerintah. Kecewa karena jauhnya menyekolahkan anak-anak mereka. Kecewa karena sulit dan mahalnya ongkos untuk menjangkau puskesmas. Kecewa tidak ada pasar yang dapat menampung hasil bumi mereka. Kecewa tidak ada listrik. Kecewa tidak ada signal telepon. Kecewa akses yang rendah untuk menjangkau lokasi lain. Kecewa terhadap keadaan yang ada. Dan banyak lagi kekecewaan mereka. Berharap nasib membaik, tapi apa daya, Lahan pertanian yang diharapkan akan dapat merubah kehidupannya ternyata jauh dari kenyataan. Jangankan untuk hidup berlebih, hanya sekedar mempertahankan hidupnyapun terasa berat.

Kini keadaan sudah terjadi. Menjadi PR bagi pemerintah dan pemerintah daerah untuk memperbaiki kehidupannya. Bergeraklah. Rangkullah. Bimbinglah mereka dengan benar. Bangunlah jalan yang baik agar mereka dapat dengan mudah bergerak ke pusat pasar. Tempatkanlah tenaga kesehatan agar mereka dapat dengan mudah berobat. Tambahkanlah SD dan SMP agar anak-anak mereka dapat meningkat kualitas sumberdayanya. Terapkanlah teknologi listrik tepat guna agar mereka dapat berkreasi dan berusaha. Bangunlah Tower seluler agar mereka dapat berkomunikasi dengan yang lainnya. Dan berilah kemudahan lainnya kepada mereka. Karena mereka mengikuti program transmigrasi ini dengan satu cita-cita yaitu untuk merubah hidupnya menjadi lebih baik, bukan untuk memindahkan kemiskinan dari Jawa ke Kalimantan. Bagaimana???





Awas!!, Pontianak Tenggelam

3 11 2011
Hampir setiap tahun kondisi jalan seperti ini selalu terjadi

Hampir setiap tahun kondisi jalan seperti ini selalu terjadi

Sepuluh-lima belas tahun yg lalu mungkin belum ada cerita Jakarta, ibukota Negara, akan tenggelam dan bila dikaitkan dengan masa itu, pembangunan di Kota Jakarta begitu intensif, sayang-nya, berbagai pembangunan tsb terkadang dalam pelaksanaannya tidak terlalu memperhatikan aspek lingkungan, akibatnya, selain daerah resapan air semakin menyempit, factor penting system drainase pun kurang terperhatikan. Konsekwensi logis dari semua itu, Kini, cerita banjirnya kota Jakarta atau bahkan akan tenggelamnya ibukota Negara bukan lagi berita besar, seolah-olah pemerintah dan masyarakatnya sudah terbiasa dengan itu.

Dikaitkan dengan cerita Kota Jakarta tersebut, Pontianak, Ibukota Kalimantan Barat yang dahulu orang mengenalnya sebagai kota seribu sungai (baca:banyak parit) adalah kota dataran rendah yang pembangunannya telah dirancang oleh pemerintah kolonial belanda dengan membuat saluran-saluran air sebagai salah satu menajemen dalam pengelolaan air di kota tersebut.  Dulunya, saluran/parit  di Kota Pontianak, selain berfungsi mencegah terjadinya banjir pasang (rob) juga dimanfaatkan sbg jaringan transportasi kota, sampai-sampai katanya, perjalanan dari dari satu tempat ke tempat lain dapat ditempuh melalui jalur parit ini hal yang tidak mungkin lagi teralami oleh penduduknya sekarang.

Permasalahan Drainase Kota Pontianak

Selain factor alam (topografi dan curah hujan tinggi), akar pemasalahan banjir di perkotaan umumnya terjadi karena pertambahan penduduk yg sangat cepat, arus urbanisasi tinggi. Pertambahan penduduk yg tidak diimbangi dengan penyediaan sarana dan prasarana perkotaan yang memadai mengakibatkan penggunaan lahan perkotaan menjadi acak-acakan (baca:tidak sesuai dgn rencana). Pemanfaatan lahan yang tidak tertib inilah yg menyebabkan persoalan system drainase di perkotaan menjadi sangat kompleks.

Kota Pontianak sendiri selain karena persoalan internal pemanfaatan lahan di perkotaan juga sangat terpengaruh dengan pola pemanfaatan lahan di wilayah hulu kedua sungai besar yang pertemuannya berada di Kota Pontianak yaitu Sungai Landak dan Sungai Kapuas.

Seiring dengan lajunya pertumbuhan penduduk Kota Pontianak dan intensitas pembangunan yang terus meningkat, keberadaan saluran/parit pun semakin menghilang di kota ini. Angkutan sungaipun berganti dengan jaringan jalan darat. Parit-parit yang dulunya berfungsi sebagai penampung banjir rob berubah fungsi menjadi bangunan dan atau lahan lain yang sama sekali fungsinya tidak lagi berhubungan dengan air. Hal lain yang tak kalah penting adalah kurangnya pemeliharaan terhadap parit yang ada dan buruknya prilaku sebagian masyarakat dalam membuang sampah sehingga tersendatnya parit.

Jangan aneh, bila intensitas hujan tinggi di Pontianak atau hujan terus menerus di wilayah hulu maka yang menjadi korban adalah jalan Veteran- Jalan A.Yani (Depan Rumah Dinas Gubernur) atau jalan Gajah Mada atau jalan lainnya akan berubah menjadi sungai. Hal ini tentu saja harus menjadi perhatian kita bersama, sehingga cerita jalan menjadi sungai atau bahkan cerita kota Pontianak akan tenggelam seperti halnya Jakarta tidak akan ada.

Kerja Sama Antar Daerah

Dari sisi administrasi pemerintahan, Persoalan banjir di Kota Pontianak tidak mungkin bisa diselesaikan oleh Kota Pontianak sendiri. Keterlibatan Pemerintah Provinsi menjadi sangat penting, minimal sebagai fasilitator yang akan mempertemukan beberapa pemerintahan daerah yang dilalui oleh sungai Kapuas dan Sungai Landak. Artinya bahwa, harus ada saling pengertian dan kerjasama (MoU) diantara pemerintah daerah yang dilalui oleh aliran kedua sungai tersebut

Pemerintah Daerah di wilayah hulu DAS Kapuas dan DAS Landak  dapat berperan sebagai wilayah yang akan menahan air hujan (off site storage) dengan merehabilitasi atau mengkonservasi kawasan-kawasan gundul di hulu.

Pemerintah Kota Pontianak sebagai daerah penerima manfaat dari adanya konservasi ini dapat memberikan subsidi dengan ikut serta merehabilitasi/konservasi kawasan-kawasan gundul di hulu tersebut. Begitu juga wilayah-wilayah hulu perlu memberikan subsidinya bagi kota Pontianak untuk merehabilitasi dampak dari bencana banjir yang terjadi.

Dengan bebasnya Kota Pontianak dari banjir, asset yang dimiliki, PAD dan kesejahteraan masyarakatnya akan lebih meningkat. Sehingga cerita Pontianak akan tenggelan sebagaimana Jakarta akan tenggelam tidak akan terdengar. Semoga!!

 

Pontianak,  November 2011

Aan M.Abdullah





SARAWAK; PESAING ATAU PELUANG BAGI KALIMANTAN BARAT

3 11 2011

Awal Bulan oktober 2011 tepatnya tangal 9 oktober 2011, pemerintah Negara bagian Sarawak Malaysia menyelenggarakan pameran dan promosi atau tepatnya “mencari investor” di A.Yani Mall, pusat pembelanjaan terbesar di Kalimantan Barat.

Sebenarnya tidak terlalu menarik apa yang disajikan pihak penyelenggara pameran tersebut, tapi bila dicermati lebih mendalam apa yang telah dilakukan oleh Malaysia tersebut adalah sesuatu yang akan sangat memberi pengaruh terhadap pembangunan ekonomi di Kalimantan Barat kedepan.

Keberadaan Sarawak sebagai salah satu Negara Bagian terbesar di Malaysia telah mempersiapkan program jangka panjang yang disebut “Sarawak Score, Corridor Of Renewable Energy” yang dipersiapkan secara cermat dan sistematis oleh pemerintah Malaysia untuk diproyeksikan sebagai pusat pengembangan ekonomi di Malaysia pada tahun 2030. Sarawak Score ini menjadi salah satu kawasan yang harus diperhitungkan dalam pengembangan ekonomi Indonesia khususnya Kalimantan Barat.

Kutub-kutub Pertumbuhan Negara Bagian sarawak, malaysia

Dari satu sisi pengembangan kawasan Sarawak Score ini, dalam keterkaitan regional antara Malaysia dan Indonesia dapat dipertimbangkan sebagai peluang dalam pengembangan ekonomi. Namun dari sisi persaingan pasar global, Sarawak Score melalui perencanaan yang komprehensif baik itu fisik, ekonomi, dan sosialnya, dapat menjadi salah satu pesaing terdekat bagi Indonesia khususnya bagi Kalimantan Barat.

Sarawak Score atau dikenal juga dengan Sarawak Coridor adalah strategi pengembangan wilayah yang diproyeksikan untuk mengembangkan Kawasan Serawak Bagian Tengah menuju kota industry. Terdapat 5 (lima) kawasan yang dikembangkan, diantaranya adalah Mukah, Tanjung Manis, Samalaju, Baram dan Tunoh. Ke lima pusat pertumbuhan baru tersebut diharapkan akan menjadi pemicu bagi perkembangan Sarawak Bagian Tengah. Pusat pertumbuhan Mukah akan dikembangkan sebagai “Smart City” yang akan berfungsi sebagai pusat utama dari Sarawak Corridor. Tanjung Manis dikembangkan menjadi kota pelabuhan dan kawasan industry. Samalaju menjadi Pusat Industri Berat. Baram dan Tunoh akan difokuskan untuk mengembangkan pariwisata dan industry berbasis sumber daya.

Dalam rangka pembelajaran dan bahan evaluasi bagi penyelenggra pembangunan di di Indonesia khususnya Pemerintah Daerah di Kalimantan Barat, maka ada baiknya kita melihat strategi dan kebijakan pengembangannya serta insentif yang ditawarkan untuk menarik minat para investor di Sarawak Corridor ini.

RENCANA DAN STRATEGI PENGEMBANGAN SARAWAK CORRIDOR

Rencana dan Strategi pengembangan Sarawak Corridor diantaranya adalah; Prioritas investasi bagi 3 pusat pertumbuhan utama yaitu Tanjung Manis (selatan), Mukah (tengah) dan Similajau (utara). Membangun jaringan jalan dan komunikasi yang dirancang dengan baik yang dapat menghubungkan koridor tersebut dengan wilayah pedalaman. Mengembangkan energy listrik dengan memanfaatkan potensi air dan batu bara (Murum, Limbang, Baram dan Baleh). Mengembangkan Sumber daya manusia dengan membangun fasilitas pendidikan dan mendatangkan tenaga asing terampil. Mengembangkan industri pariwisata, dengan fokus pada wisata alam, danau, pantai di sepanjang bagian utara Koridor tersebut.

Di dalam Sarawak Coridor ini direncanakan akan berdiri 10 jenis industry yang diperkirakan akan memberikan dampak ekonomi bagi Negara Bagian Sarawak ke sepuluh jenis industry tersebut adalah; Industri Aluminium, Industri Kaca, Industri Baja, Industri berbasis minyak, Industri berbasis Kelapa Sawit, Industri berbasis Perikanan, Industri Ternak, Industri berbasis kayu, Industri Rekayasa Laut (Industri perkapalan) serta industry pariwisata.

RENCANA TAHUN PENGEMBANGAN SARAWAK CORRIDOR

Untuk mencapai tujuannya, Negara Federal Serawak telah tahun pengembangannya yaitu; Tahun 2008-2015 Meletakkan Dasar-dasar Koridor (memicu perkembangan, Melaksanakan proyek infrastruktur prioritas tinggi dan proyek-proyek prioritas lainnya yang dapat memicu perkembangan. Tahun 2016-2020 Menuju Visi 2020 (Pengembangan untuk menyelaraskan dengan visi 2020, Memastikan pertumbuhan dan perkembangan koridor dengan membangun rantai industry dan mengembangkan sumberdaya manusia). Tahun 2021-2030 Koridor Akhir (koridor telah menghasilkan, Sumberdaya manusia untuk mempertahankan perekonomian, investasi internal).

INSENTIF INVESTASI

Dalam rangka menarik minat investor untuk berinvestasi di Sarawak Corridor ini pihak otoritas pembangunan, Pemerintah Federal dan Pemerintah Malaysia akan memberikan berbagai kemudahan dan insentif diantaranya adalah; Investor di industri strategis akan menerima insentif keuangan yang menarik untuk mengatur operasi mereka di kawasan tersebut. Diantaranya adalah insentif yang ditawarkan oleh Otorita Pembangunan Industri Malaysia (MIDA), seperti Status “Pioneer”, Tunjangan Pajak Investasi, dan Tunjangan reinvestasi.

Investor di kawasan tersebut juga bisa menerima insentif dari Pemerintah Federal seperti tunjangan infrastruktur, pembebasan bea masuk, dan potongan ganda pada biaya pengiriman. Pemerintah Negara juga akan memberikan insentif ini dengan menawarkan harga menarik untuk energi dan lahan, serta insentif lainnya, terutama untuk proyek-proyek memicu dan pengembangan klaster di koridor tersebut.

PERLINDUNGAN INVESTASI ASING

Hal yang tak kalah menariknya adalah perlindungan terhadap investasi asing.

1. Ekuitas Kebijakan Dalam Sektor Manufaktur, Pemerintah Malaysia menyambut baik investasi asing di sektor manufaktur. Sesuai dengan tujuan meningkatkan partisipasi Malaysia dalam kegiatan manufaktur, itu adalah kebijakan Pemerintah untuk mendorong proyek yang akan dilakukan secara patungan antara Malaysia dan pengusaha asing.

2. Ekuitas Kebijakan Investasi Baru, Investor asing dapat memiliki 100% dari ekuitas di semua investasi dalam proyek baru, serta investasi dalam perluasan / diversifikasi oleh perusahaan yang ada, terlepas dari tingkat ekspor dan tanpa produk /kegiatan yang dikecualikan.

3. Ekuitas Kebijakan Kepada Perusahaan Yang Ada  Perusahaan dengan kondisi ekspor dapat mengajukan permohonan untuk mendapatkan persetujuan dari Mida untuk menjual di pasar dalam negeri.

4. Ekuitas Kepemilikan Perusahaan yang penyertaan modal dan telah disetujui tidak akan diminta untuk merestrukturisasi ekuitasnya setiap saat selama perusahaan sesuai dengan kondisi asli dari persetujuan dan mempertahankan fitur asli dari proyek ini.

5.Investasi Perjanjian Jaminan,  Perlindungan terhadap nasionalisasi dan penyitaan. Pastikan kompensasi yang cepat dan memadai dalam hal nasionalisasi atau pengambilalihan. Menyediakan transfer gratis dari keuntungan, modal dan biaya lainnya.. Memastikan penyelesaian sengketa investasi di bawah Konvensi tentang Penyelesaian Perselisihan Investasi Malaysia yang telah menjadi anggota sejak tahun 1996.

Apa Yang Harus Dilakukan Pemerintah dan Pemerintah Daerah Di Kalimantan Barat

Rencana pengembangan Sarawak Corridor yang kini sedang dikerjakan oleh Pemerintah Federal Serawak semestinya menjadi “warning” bagi pemerintah dan pemerintah daerah di Kalimantan Barat, khususnya dalam persaingan di era globalisasi yang akan semakin ketat. Bila tidak, issu terhadap pencaplokan wilayah NKRI oleh Malaysia mungkin akan lebih dahsyat lagi dan akan terjadinya pencaplokan dalam versi lain yaitu terjadinya ketergantungan ekonomi Kalimantan Barat terhadap Negara Federal Sarawak. Hal ini mungkin saja terjadi karena ekonomi tidak mengenal batas administrasi.

Sebenarnya telah banyak yang dilakukan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah di Kalimantan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, salah satu diantaranya adalah penyelenggaraan KTM (Kota Terpadu Mandiri) di kawasan Transmigrasi yang sudah berkembang. Di wilayah perbatasan sendiri KTM telah tercanangkan diantaranya KTM Subah dan KTM Aruk di Kabupaten Sambas serta KTM Rasau Jaya (Kubu Raya) dan KTM Gerbang Kayong (Kayong Utara).

Secara substansinya, program KTM yang diselenggrakan di kawasan transmigrasi ini tidak jauh berbeda dengan program Sarawak Corridor nya Malaysia yaitu sama-sama membentuk kawasan pertumbuhan ekonomi baru. Bahkan bila dilihat dari programnya, KTM mempunyai nilai yang lebih unggul dari Sarawak Corridor. Beberapa keunggulan KTM diantaranya adalah:

  1. KTM diselenggarakan di wilayah transmigrasi yang sudah berkembang sehingga pembentukan pusat pertumbuhan tidak terjadi dari awal sedangkan Sarawak Corridor diselenggrakan di wilayah yang masih kosong.
  2. Pemerintah Pusat menyiapkan seluruh infrastruktur yang dibangun untuk kepentingan investor dan masyarakat bukan saja di pusat KTM tetapi sampai ke wilayah desa sekitarnya. Sedangkan Sarawak Corridor hanya membangun infrastruktur utama saja.
  3. Di Kawasan KTM telah tersedia tenaga kerja transmigran dan penduduk sekitar, sedangkan di Sarawak Corridor belum ada jaminan tersedianya tenaga kerja.
  4. Investor KTM telah tersedia yaitu investor minimal investor yang telah bekerjasama dengan masyarakat transmigrasi khususnya dalam bidang perkebunan. Sedangkan di Sarawak Corridor belum ada investor.
  5. Sedangkan penyelenggaraan infrastruktur lainnya dan fasilitas pendukung relative sama dengan apa yang dilakukan Sarawak Corridor.

Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apa Pemerintah dan Pemerintah Daerah serius untuk melaksanakan programKTM ini?.

PENUTUP

Berdasarkan perencanaan Sarawak Corridor yang direncanakan secara komprehensif ini, maka Negara Federal Sarawak merupakan pesaing terdekat bagi pengembangan Ekonomi Kalimantan Barat dalam hal menarik investasi dan persaingan pangsa pasar produk nantinya. Namun, dengan keberadaan geografis yang berdekatan, dan potensi sumberdaya yang dimiliki Kalimantan Barat serta kerangka kerja sama BIMP-EAGA Brunei-Indonesia-Malaysia-Philipina East ASEAN Growth Area, dan melalui kerja sama pengembangan ekonomi antara Sarawak dan Indonesia (khususnya Kalimantan Barat), sesungguhnya kedua kawasan ini memiliki potensi untuk bersinergi dan saling menguntungkan dalam persaingan pasar global. Oleh karena itu maka seluruh pemangku kepentingan harus mempunyai komitmen yang kuat dalam mengejar ketertinggalan pembangunannya agar potensi sinergi tersebut tidak terbuang sia-sia.

Pontianak,  September, 2011

Aan M. Abdullah








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.